Selasa, 19 Juni 2012
Gerbang Lod, Tempat Penaklukan Dajjal
“Sesungguhnya
Isa Bin Maryam Akan Membunuh Dajjal Di Bab Lud (Gerbang Lod).” (Hr Ahmad, Turmudzi, Dan Nu’Aim
Bin Hamad).
Pada akhir
zaman nanti akan turun Dajjal ke muka bumi ini. Rasulullah SAW bersabda,
“Ketika sedang tidur, aku bermimpi melakukan tawaf di Ka’bah. Lalu, ada seorang
berambut lebat yang meneteskan air dari kepalanya, lalu aku tanyakan siapakah
ini? Mereka menjawab, ‘Ibnu Maryam AS’.”
“Kemudian,
aku berpaling dan melihat seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah,
berambut keriting, matanya buta sebelah, dan matanya itu seperti buah anggur
yang masak (tak bersinar). Mereka mengatakan, ‘Ini Dajjal’. Dia adalah orang
yang paling mirip dengan Ibnu Qathn, seorang laki-laki dari Khuza’ah.” (HR
Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis
lainnya disebutkan, “Lalu, turunlah Isa bin Maryam di menara putih di bagian
timur Damaskus. Isa menemukan Dajjal di Pintu Lod, kemudian membunuhnya.” (HR
Abu Daud)
Dari Mujami
bin Jariyah al-Anshari RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Isa bin
Maryam akan membunuh Dajal di Bab Lud(Gerbang Lod).” (HR Ahmad, Turmudzi, dan
Nu’aim bin Hamad).
“Tidak ada
satu orang kafir pun yang masih hidup, semuanya terbunuh. Lalu, Isa berhasil
menyusul Dajjal di Pintu Lod dan membunuhnya. Lalu, beberapa kaum Muslimin
diselamatkan Allah ke hadapan Isa bin Maryam. Ia mengusap wajah mereka dan
memberitahukan kepada mereka tentang kedudukan mereka di surga.” (HR Muslim,
Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan Hakim).
Dalam hadis
di atas diungkapkan bahwa Dajjal akan dikalahkan Nabi Isa AS di Gerbang Lod. Di
manakah letaknya? Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadith al-Nabawi,
Lod atau Gerbang Lod adalah kota yang terletak di dekat Baitul Maqdis atau Elia
di Palestina dekat Ramalah. “Dahulu, rombongan kafilah dari Syam (Suriah) yang
menuju Mesir singgah di kota ini, begitu juga sebaliknya,” ujar Dr Syauqi.
***
Kini, Lod
merupakan salah satu kota yang berkembang di dataran Sharon, yaitu 15 km di
tenggara Tel Aviv, Israel. Lod yang dalam bahasa Arab adalah al-Ludd itu, konon
menjadi tempat tinggal Suku Benyamin. Kota seluas 12.226 km per segi itu sudah
muncul sejak Periode Kanaan. Temuan tembikar di daerah tersebut menunjukkan
Kota Lod telah eksis sejak 5600 hingga 5250 sebelum Masehi.
Dan sejak
saat itu, Lod menjadi hunian bangsa Yahudi hingga penaklukan yang dilakukan
oleh Romawi pada 70 Masehi. Kota ini dikenal sebagai pusatnya pemikir dan
pedagang Yahudi. Menurut peneliti sejarah, Martin Gilbert, Raja Dinasti
Hasmonean Jonathan Maccabee dan saudara laki-lakinya, Simon Maccabaeus,
memperluas daerah kekuasaannya di bawah kendali Yahudi, termasuk menaklukkan
Kota Lod.
Pada 43 M,
Gubernur Romawi untuk Suriah Cassius menjual penduduk Lod sebagai budak. Selama
Perang Romawi-Yahudi I, Prokonsul Suriah, Cestius Gallus, menghancurkan kota
tersebut dalam perjalanannya menuju Yerusalem pada 66 M. Dua tahun berikutnya,
kota ini diduduki oleh Kekaisaran Vespasian.
Selama
Perang Kitos, tentara Roma mengepung Kota Lod dan mengganti namanya menjadi
Lydda. Pada saat itu, terjadi pemberontakan Yahudi dipimpin oleh Julian dan
Pappus. Lydda kemudian dikuasai dan banyak Yahudi yang dieksekusi. “Pembunuhan
Lydda” sering digunakan sebagai kalimat pujian di dalam Talmud.
Romawi
berhasil menguasai kota yang 75 persen penduduknya adalah bangsa Yahudi pada 70
M. Pada abad ke-3, Kekaisaran Septimius Severus mengangkat status Lod menjadi
sebuah kota yang disebut dengan Colonia Lucia Septimia Severa Diospolis.
Diospolis berarti kota para dewa.
Ketika
diduduki oleh Kekaisaran Romawi, kebanyakan penduduknya menganut agama Kristen.
Saat itu, Romawi memang tengah melakukan Kristenisasi besar-besaran di daerah
kekuasaannya. Namun, pada abad ke-6 M, kota itu kembali berganti nama menjadi
Georgiopolis untuk menghormati seorang prajurit Kekaisaran Diocletian, St
George. Gereja dengan nama yang sama juga dibangun di kota tersebut untuk
mengenangnya.
***
Kota ini
menjadi salah satu lokasi yang penting setelah penaklukan bangsa Arab terhadap
Palestina oleh pasukan tentara Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid pada 636
M. Selama penaklukan yang dilakukan kaum Muslim, Lod menjadi markas Provinsi
Filastin, meskipun selanjutnya dipindahkan ke Ramla.
Pada awal
abad ke-11 M, tepatnya tahun 1099, Tentara Salib merebut kota ini dari bangsa
Arab dan menamainya menjadi St Jorge de Lidde. Namun, kota tersebut direbut
kembali dari Tentara Salib pada 1191 oleh pasukan Saladdin. Penjelajah Yahudi
Benjamin Tudela mengatakan, saat Saladdin menaklukkan Lod, sebanyak 1.170 ke
-luarga Yahudi tinggal di sana.
Di bawah
Kesultanan Ottoman (Turki Usmani), Gereja Saint George dibangun pada 1870. Pada
1892, stasiun kereta untuk pertama kalinya dibangun di seluruh kota. Pada
pertengahan abad ke-19 M, pedagang Yahudi berimigrasi ke kota tersebut, namun
kembali mengungsi pada 1921 setelah tejadi Kerusuhan Jaffa. Pada tahuntahun
ini, Lydda berada di bawah administrasi mandat Inggris di Palestina sebagai
keputusan Liga Bangsa-Bangsa yang diikuti dengan Perang Dunia I.
Selama
Perang Dunia II, Inggris mengatur pos-pos pasukannya di dalam dan sekeliling
Lydda serta stasiun keretanya. Setelah peresmian negara Israel pada 1948,
bandar udara Lod diubah namanya menjadi Bandara Ben Gurion.
Hingga 1948,
Lydda menjadi permu kiman bangsa Arab dengan populasi sekitar 20 ribu penduduk
dan sebanyak 18.500 jiwa adalah Muslim, sisanya Kristen. Pada 1947,
Perserikatan Bangsa-Bangsa mem bagi Palestina kepada dua bangsa: Yahudi dan
Arab. Sedangkan, Lydda diminta untuk dilepaskan dari bangsa Arab.
Namun,
bangsa Arab menolak rencana tersebut. Maka, setelah menyatakan kemerdekaannya
pada 14 Mei 1948, Israel menyerang dan merebut beberapa daerah Arab di luar
yang diberikan PBB, termasuk Lydda. Dua bulan berikutnya, pasukan pertahanan
Israel memasuki Lydda. Menurut tentara Israel, sebanyak 250 bangsa Arab, baik
pria, wanita, maupun anak-anak terbunuh.
***
Selama 1948,
populasi di Lydda meningkat menjadi 50 ribu jiwa, yang sebagian besar merupakan
pengungsi Arab. Namun, sekitar 700 hingga 1.056 orang diusir atas perintah
komando tinggi Iseael dan dipaksa berjalan sepanjang 17 km menuju garis Legiun
Arab pada hari terpanas tahun itu. Banyak yang meninggal karena kelelahan dan
dehidrasi dalam perjalanan tersebut.
Kota Lydda
kemudian dikuasai oleh tentara Israel. Beberapa ratus keturunan Arab yang
tinggal di kota itu tidak diizinkan menempati rumah-rumah mereka. Mereka segera
kalah jumlah akibat masuknya imigran Yahudi dari berbagai daerah pada Agustus
1948. Sebagian dari mereka adalah Yahudi yang tinggal di negara-negara Arab.
Maka,
seperti awal mula berdirinya kota tersebut, Kota Lydda kembali menjadi Kota
Yahudi. Imigran Yahudi terus berdatangan, awalnya dari Maroko dan Tunisia, lalu
dari Ethiopia, dan kemudian dari Uni Soviet.
Di dalam
Kota Lod terdapat sebuah dinding setinggi tiga meter yang dibangun untuk
memisahkan distrik Yahudi dari distrik bangsa Arab. Pertumbuhan daerah Arab
sangat minim, sementara Pemerintah Israel telah mendorong pembangunan di daerah
Yahudi. Beberapa layanan, seperti lampu jalan dan pengumpulan sampah hanya
dilakukan di distrik Yahudi.
Hal itu
mengingatkan kita ketika Berlin terbagi dua oleh Tembok Berlin karena
berlakunya dua kekuatan di sana, yaitu Amerika Serikat di Berlin Barat dan Uni
Soviet di Berlin Timur. (http://www.republika.co.id)
Label:
Artikel
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar